Kamis, 18 Januari 2018

Si Perusak sekaligus Pembangun

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu - Efesus 4:26
          Kutipan ini adalah kutipan yang paling tepat sebelum saya memulai cerita pengalaman saya. Hai kawan, bertemu lagi bersama saya Nicole blogger pemula dari SMAK KANAAN. Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya mengenai kasih dari seorang ibu kepada anaknya.

           Ibu...

           Kata apa yang tepat untuk mendeskripsikan kata diatas?

           Bagi seorang anak laki-laki, ibu adalah cinta pertamanya. Ibu adalah malaikat bagi anak-anaknya. Adalah sebuah kebohongan bila seorang ibu tidak mencintai anaknya. Ibu adalah salah satu orang yang akan selalu menyayangi anak. Seperti dalam lirik lagu kasih ibu yang berbunyi seperti berikut, "Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa... "  Tetapi mau bagaimanapun, ibu adalah seorang manusia. Semua manusia pasti melakukan kesalahan baik sengaja maupun tidak sengaja. Bagaimana jika misalkan ibumu membuat kesalahan yang awalnya membuat engkau menjadi benci kepada beliau? Berikut adalah cerita pengalaman saya...

            Pada waktu itu, seingat saya pada saat umur 12 tahun. Hari itu kami sedang berjalan-jalan di mall. Saya sebagai anak, seperti anak-anak normal lainnya akan tergiur jika melihat mainan. Mainan yang saya taksir adalah sebuah pistol mainan. Sebagai seorang anak kecil, saya langsung meminta agar kedua orangtua saya membelikan pistol tersebut. Secara spontan dan tegas, ibu saya berkata tidak. Saya memohon dan terus meminta-minta dengan harapan ia berubah pikiran dan membelikan saya mainan tersebut. Namun dia masih saja menolak untuk membelikannya.

            Terjadi perdebatan mulut yang hebat antara saya dan ibu saya. Saya bertanya, " Kenapa mama gk mau beliin mainan itu? ". " Mainan dirumah kan udah banyak nak, nanti akhirnya kamu juga bosen dan mainan itu bakal dibuang. Buang-buang duit aja tau gk? Lagian adikmu lagi sakit ini . Gk kasihan apa ngelihatnya? " jawabnya dengan nada kesal. Sifat kekanak-kanakan saya sangat dominan saat itu, saya menjadi egois, saya terus merengek-rengek untuk membelikan mainan tersebut. Namun ibu saya tidak menghiraukan rengekan saya. Saya terus merengek sepanjang perjalanan di mall.
           
             Akhirnya sampailah Ia dibatas kesabaran. Dia membentak saya dengan cukup keras sampai sejenak saya terdiam. Ia berkata, " NICOLE!! MAMA POKOKNYA GAK MAU BELIIN TITIK. UDAH JANGAN MINTA-MINTA, PUSING MAMA DENGERNYA! ". Timbulah rasa dendam dalam diri saya, saya sangat kesal pada saat itu.

              Saya menjawab, "Oh yaudah, mama memang udah gk sayang ya ama Nicole. " . Saya tak pernah menduga itu akan menjadi kata terakhir saya kepada ibu saya selama 1 minggu kedepan. Saya marah kepada ibu saya dan saya berniat untuk tidak mempedulikan perkataannya lagi. Akhirnya saya tidak mempedulikan semua perkataan dia selama 1 minggu penuh. Ia sudah membujuk saya dengan segala caranya, seperti menawarkan berbagai macam barang namun saya menolaknya, dia bahkan membawakan makanan yang saya suka, berhubung jika saya sedang ngambek saya akan mengurung diri dan jarang sekali keluar untuk makan. Namun saya menolak dan membanting makanan tersebut hingga piringnya pecah.

              Semenjak kejadian tersebut, saya langsung berpikir. Apakah pantas cuma karena ia tidak memberikan apa yang saya mau saya harus berbuat seperti itu kepada orangtua? Saya merenung dengan sejenak dan memutuskan untuk mulai berbicara kepada ibu saya yang sudah mulai capek membujuk hati saya. Saya meminta maaf dan mulai menangis. Saya tersadar bahwa apa yang saya lakukan adalah kesalahan yang sangat besar. Saya sudah durhaka kepada orangtua saya. Jelas ibu saya menerima saya dengan perasaan suka cita sekaligus lega.
 
               Namun saya menjadi bingung, kenapa segampang itu memaafkan padahal saya sudah bertindak keterlaluan? Saya bertanya, " Mama kenapa maafin aku kok gampang banget padahal aku sudah bertindak tidak pantas kepada mama sebagai orang tua? ". Ia menjawab dengan sabar dan tersenyum dengan lebar,      " Karena mama sayang Nicole, mama gk akan pernah dendam kepada Nicole dan kamu adalah anugrah terbesar dalam hidup mama. ". Saya menangis, entah antara terharu atau kecewa terhadap diri sendiri. Kecewa kenapa harus mendendam, pasti mama selalu mengkhawatirkan aku selama 1 minggu terakhir ini. Ia berkata, " Udah ya Nicole gk usah sedih lagi, mama sayang Nicole." .

                Singkat cerita, kejadian tersebut sudah terlewat berminggu-minggu. Hari itu adalah hari ulang tahun saya, kedua orangtua saya pun mengatakan bahwa mereka sudah menyiapkan hadiah spesial sebagai hadiahku. Saya sudah tidak sabar, akhirnya saya membuka kado tersebut dan saya terkejut melihatnya. Hadiah tersebut adalah mainan yang kami jadikan bahan pertengkaran berminggu-minggu kemarin. Saya berterima kasih kepada mereka. Ayah saya menambahkan, " Mama mu tuh yang pilihin hadiahnya. ". Saya langsung mengucapkan terima kasih kembali ke ibu saya. " Iya nak, apa aja asal kamu seneng kok. Kami berdua selalu mengusahakan yang terbaik agar kamu bahagia. ".

                 Langsung saya menyadari bahwa ibuku merupakan wanita terbaik yang kukenal. Dia baik, sabar, penyayang dan tak pendendam. Dia merupakan malaikat yang datang dari surga dan mengambil wujud seperti manusia. Dalam kejadian ini, ibu saya yang merusak suasana hati saya dan juga dia yang membangun itu kembali, maka dari itu saya putuskan untuk mengambil judul perusak dan pembangun. Saya sangat sayang kepada ibu saya dan sejak saat itu hubungan kita semakin dekat.



             

             
       



World Class Boyband

Resensi Buku Fiksi Judul buku       : Dare to Dream: Life as One Direction Penulis             : Richard Griffiths, Debbie Daisy Natalia...